
(Foto: Biro Marketing Unla).*
UNIVERSITAS Langlangbuana (Unla) Bandung menyalurkan bantuan tong sampah terpilah kepada SMAN 17 Bandung sebagai upaya menumbuhkan budaya peduli lingkungan dan meningkatkan kesadaran pengelolaan sampah sejak di lingkungan sekolah pada Senin, 20 Juli 2026, pukul 13.00-15.00 WIB di SMAN 17, Jl. Caringin, Babakan Ciparay, Kec. Babakan Ciparay, Kota Bandung. Program tersebut menjadi bagian dari komitmen Unla dalam mendukung pengelolaan sampah yang bertanggung jawab sekaligus mendorong terciptanya lingkungan belajar yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.
Melalui penyediaan tong sampah basah, kering, dan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), Unla mengajak seluruh warga sekolah membiasakan memilah sampah dari sumbernya. Langkah sederhana ini diyakini mampu memberikan dampak besar terhadap pengurangan pencemaran lingkungan, peningkatan proses daur ulang, hingga menekan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
Kepala SMAN 17 Bandung, Yana Rohana, S.Pd., M.Pd., menyambut baik program tersebut dan berharap keberadaan fasilitas pemilahan sampah dapat membangun kebiasaan positif di kalangan siswa maupun seluruh warga sekolah.
“Dengan adanya tong sampah basah, kering, dan B3, diharapkan setiap orang semakin mudah membiasakan diri memilah sampah sejak dari sumbernya. Kebiasaan sederhana ini akan membentuk karakter peduli lingkungan sekaligus menciptakan sekolah yang lebih bersih dan sehat,” ujar Yana.
Program ini juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya mengenali jenis sampah sebelum dibuang. Tong sampah basah diperuntukkan bagi sisa makanan, sayuran, buah-buahan, dan sampah organik lainnya. Tong sampah kering digunakan untuk menampung kertas, plastik, kaleng, serta berbagai material yang masih dapat didaur ulang. Sementara itu, tong sampah B3 disediakan khusus untuk limbah berbahaya seperti baterai bekas, lampu, obat kedaluwarsa, dan material lain yang mengandung zat berbahaya.
Unla menilai perubahan besar dalam pengelolaan lingkungan tidak selalu lahir dari program berskala besar, melainkan dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten oleh setiap individu. Semakin banyak masyarakat yang berpartisipasi memilah sampah sejak dari sumbernya, semakin besar pula manfaat yang dirasakan, mulai dari lingkungan yang lebih bersih, berkurangnya risiko pencemaran, meningkatnya tingkat daur ulang, hingga berkurangnya beban sampah yang masuk ke TPA.
Melalui program ini, Unla kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan melalui edukasi dan aksi nyata. Kampus berharap kebiasaan memilah sampah dapat menjadi bagian dari budaya sehari-hari warga sekolah, sehingga tercipta generasi yang lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan.
Pesan utama yang diusung dalam program ini sederhana namun memiliki makna besar, yakni tidak perlu menunggu orang lain memulai perubahan. Tanggung jawab terhadap lingkungan dapat diwujudkan mulai dari diri sendiri dengan membuang sampah sesuai kategorinya dan menjadikan kebiasaan tersebut sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. (Humas Unla)***