PELUANG DAN TANTANGAN PILKADA SERENTAK 2018

Senin, 14 Mei 2018 04:04:05 WIB Oleh : Humas Unla


image

Pilkada serentak akan segera di gelar pada tahun 2018 ini. Perlu adanya analisis tentang peluang dan tantangan akan pelaksanaan Pilkada ini agar berjalan lancar, adil dan pemilih menggunakan hak pilihnya dengan tepat. Untuk itu, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Langlangbuana menggelar kegiatan seminar nasional yang dilaksanakan pada hari sabtu, tanggal 12 Mei 2018.  Acara yang bertempat di gedung Wisma Buana ini menghadirkan nara sumber Prof. Karim Suryadi (pengamat sosiologi politik), Dr. Dadang Rahmat Hidayat (Ahli Komunikasi Massa) dan Kombes Pol. Leonidas Braksan SIk (Karo Ops.Polda Jabar). Dalam paparannya Leonidas braksan yang diwakili oleh AKBP. Teddy menyatakan bahwa ada berbagai ancaman terhadap penyelenggaran Pilkada yang damai diantaranya adalah unjuk rasa masalah mekanisme daftar pemilih, latar belakang bakal calon, dugaan ijazah palsu, sabotase dan terror, pencurian dan sabotase logistik pilkada, terhambatnya distribusi karena faktor cuaca dan transfortasi, kerusakan dan kekurangan surat suara, penghadangan, penculikan dan intimidasi petugas distribusi serta laka lantas. Sedangkan Prof. Karim dalam paparannya menyatakan bahwa peluang dalam Pilkada 2018 diantaranya adalah adanya konsolidasi demokrasi, dimana pemilu sebagai mekanisme politik lima tahunan makin terjaga keteraturannya, partai politik peserta pemilu semakin modern dari sisi struktur, meski masih memiliki beberapa kelemahan bila dilihat dari aspek lain, serta Civic engagement yakni partisipasi politik masyarakat tampak meningkat, meski kepercayaan terhadap partai politik tampak menurun. Selain itu, Prof Karim Suryadi juga menyoroti tentang  psiko-politik warga yakni sebagian besar warga menyadari, pemilu adalah perhelatan politik biasa meski tidak boleh dianggap biasa-biasa saja karena apa yang dihasilkannya berdampak bagi kehidupan mereka serta pilar negara bangsa, dimana secara formal kesadaran terhadap empat pilar makin kuat-di permukaan muncul suara menolak pemanfaatan isu politik identitas (termasuk SARA) sebagai alat kampanye.

Acara seminar ini dibuka oleh Rektor UNLA DR. H. R. AR. Harry Anwar SH., MH Brigjen Pol (Purn) serta dihadiri oleh tamu undangan dari KPU, Bawaslu, berbagai Perguruan tinggi di Jabar, berbagai organisasi politik dan Ormas, seluruh dosen dan tenaga non kependidikan FISIP UNLA serta mahasiswa UNLA. Acara ini diliput oleh TVRI dan Metro TV serta berbagai media cetak di Jabar.



Humas Unla